![]() |
| toko kami memberikan pelayanan |
Guskompindo
menjabarkan Konsep Pelayanan Prima
Pengertian
Pelayanan Prima
Pada hakikatnya, pelayanan prima adalah salah satu usaha
yang dilakukan perusahaan dalam melayani
pembeli (pelanggan) dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat memberikan kepuasan
kepada pelanggan dan memenuhi kebutuhannya serta keinginan pelanggan, baik yang berupa
produk barang atau jasa.
Pelayanan prima adalah pelayanan terbaik yang diberikan
perusahaan untuk memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan, baik pelanggan
didalam perusahaan maupun diluar perusahaan.
Secara sederhana, pelayanan prima (excellent service) dapat
diartikan sebagai suatu pelayanan yang terbaik dalam memenuhi harapan dan
kebutuhan pelanggan. Dengan kata lain, pelayanan prima merupakan suatu
pelayanan yang memenuhi standar kualitas. Pelayanan yang memenuhi
standar kualitas adalah suatu pelayanan yang sesuai dengan harapan dan kepuasan
pelanggan/masyarakat.
Dalam pelayanan prima terdapat dua elemen yang saling
berkaitan, yaitu pelayanan dan kualitas. Kedua
elemen tersebut sangat penting untuk diperhatikan oleh tenaga pelayanan
(penjual, pedagang, pelayan, atau salesman).
Konsep pelayanan prima dapat diterapkan pada berbagai
organisasi, instansi, pemerintah, ataupun perusahaan bisnis.
Perlu diketahui bahwa kemajuan yang dicapai oleh suatu
negara tercermin dari satandar pelayanan yang diberikan pemerintah kepada
rakyatnya. Negara-negara yang tergolong miskin pada umumnya kualitas pelayanan
yang diberikan di bawah standar minimal. Pada negara-negara berkembang kualitas
pelayanan telah memenuhi standar minimal. Sedangkan di negara-negara maju
kualitas pelayanan terhadap rakyatnya di atas standar minimal.
Terdapat beberapa definisi tentang kualitas pelayanan yang
dikemukakan oleh para ahli.
Dan dari sejumlah definisi tersebut terdapat beberapa
kesamaan, yaitu:
1. kualitas
merupakan usaha untuk memenuhi harapan pelanggan
2. kualitas
merupakan kondisi mutu yang setiap saat mengalami perubahan
3. kualitas itu
mencakup proses, produk, barang, jasa, manusia, dan lingkungan
4. kualitas
merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia,
proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Vincent Gespersz menyatakan bahwa
kualitas pelayanan meliputi dimensi-dimensi sebagai berikut:
a. Ketepatan waktu
pelayanan berkaitan dengan waktu tunggu dan proses.
b. Kualitas
pelayanan berkaitan dengan akurasi atau kepetatan pelayanan.
c. Kualitas
pelayanan berkaitan dengan kesopanan dan keramahan pelaku bisnis.
d. Kualitas
pelayanan berkaitan dengan tanggung jawab dalam penanganan keluhan pelanggan.
e. Kualitas
pelayanan berkaitan dengan sedikit banyaknya petugas yang melayani serta
fasilitas pendukung lainnya.
f. Kualitas
pelayanan berkaitan dengan lokasi, ruangan tempat pelayanan, tempat parkir,
ketersediaan informasi, dan petunujuk/panduan lainnya.
g. Kualitas
pelayanan berhubungan dengan kondisi lingkungan, kebersihan, ruang tunggu,
fasilitas musik, AC, alat komunikasi, dan lain-lain.
2. Sejarah Perkembangan
Pelayanan Prima
Menurut Garvin dalam bukunya, Managing
Quality, menyebutkan bahwa kualitas sebagai suatu konsep telah lama dikenal
orang, akan tetapi kemunculannya sebagai fungsi manajemen terjadi belum lama
ini.
Menurutnya, bahwa konsep dan pendekatan kualitas mengalami
tahap-tahap perkembangan, antara lain pendekatan inspeksi, pengendalian
kualitas statistikal, jaminan kualitas, dan manajemen kualitas strategic.
Tahapan perkembangan kualitas tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut.
1. Pendekatan
inspeksi
Dalam era ini inspeksi atau pengawasan terhadap produk
dilakukan secara langsung dan dibandingkan dengan standar yang seragam. Sejak
awal abad ke-20 kegiatan inspeksi dikaitkan dengan pengendalian kualitas. Pada
waktu itu kualitas dipandang sebagai fungsi manajemen tersendiri.
2. Pendekatan
statistikal
Gerakan penilaian kualitas yang menggunakan pendekatan
ilmiah untuk pertama kalinya berlangsung pada tahun 1931, yaitu dengan
dipublikasikannya hasil karya W.A. Shewhart, seorang peneliti
kualitas dari BellTelephone Laboratories. Ia menyebutkan bahwa
variabilitas merupakan suatu kenyataan dalam industri dan hal ini dapat
dipahami dengan menggunakan prinsip probabilitas dan statistik.
Dua rekan Shewart mengembangkan teknik statistik untuk
melakukan sampling sejumlah item yang terbatas di setiap kelompok produksi.
Sasarannya adalah untuk melakukan trade-off antara biaya tinggi akibat inspeksi
100% dengan resiko dari salah satu keadaan berikut:
· Menerima
suatu kelompok produk yang sesungguhnya terdiri dari item-item yang rusak dalam
presentasi tinggi, dan
· Menolak
suatu kelompok produk yang sesungguhnya memenuhi standar kualitas.
3. Pendekatan
jaminan kualitas
Dalam era ini terdapat pengembangan empat konsep baru yang
penting, yaitu
a. Biaya kualitas
b. Pengendalian
kualitas terpadu (totalquality control),
c. Reliability
engineering, dan
d. Zero defect.
a. Biaya kualitas
adalah istilah yang diciptakan oleh Yoseph Juran untuk menjawab pertanyaan
“seberapa besar kualitas dirasa cukup?”. Dan Menurutnya, biaya untuk mencapai
tingkat kualitas tertentu dapat dibagi menjadi biaya yang dapat
dihindari dan biaya yang tak dapat dihindari.
· Biaya
yang tak dapat dihindari dikaitkan dengan inspeksi dan pengendalian kualitas
yang dirancang untuk mencegah terjadinya kerusakan (defects).
· Biaya
yang dapat dihindari adalah biaya kegagalan produk yang meliputi bahan baku
yang rusak, jam kerja yang digunakan untuk perbaikan, pemrosesan keluhan, dan
kerugian finansial akibat pelanggan yang kecewa.
Implikasi pandangan Juran ini adalah bahwa pengeluaran
tambahan untuk perbaikan kualitas dapat dijustifikasi selama biaya kegagalan
masih tinggi.
b. Total Quality
Control (TQC) merupakan hasil pemikiran Armand Feigenbaum yang
dikemukakannya pada tahun 1965. Menurut pendapatnya bahwa pengendalian dimulai
dari perancangan produk dan berakhir jika produk telah sampai ke tangan
pelanggan yang puas. Prinsip utamanya adalah quality is every body’s
job.
Ia menyatakan bahwa kegiatan kualitas dapat dikelompokkan
kedalam tiga kategori, yaitu:
· Pengendalian
rancangan baru
· Pengendalian
bahan baku yang baru datang
· Pengendalian
produk
Sistem kualitas saat ini juga memasukkan pengembangan produk
baru, seleksi pemasok, dan pelayanan pelanggan.
c. Reability
engineering muncul pada tahun 1950-an, yang didorong oleh kebutuhan
Angkatan Bersenjata Amerika untuk memiliki peralatan elektronik dan senjata
udara yang dapat diandalkan, bekerja dengan baik, serta menghindari kebutuhan
untuk penggantian suku cadang yang mahal.
d. Zero defects
pertama kali dimunculkan oleh Martin Company pada tahun
1961-1962. Konsep ini timbul karena kebutuhan pelanggan militer akan produk
yang tidak hanya bekerja baik pada saat pertama kali, tetapi juga diserahkan
tepat waktu.
Konsep zero defects lebih dipusatkan pada harapan manajemen
dan hubungan antar pribadi dari pada keterampilan rekayasa.
Tujuan utamanya adalah mengharapkan kesempurnaan pada saat pertama
dan fokusnya pada identifikasi masalah pada sumbernya dengan perhatian khusus
untuk mengoreksi penyebab umum kesalahan karyawan, seperti kurang
pengetahuan, kurangya fasilitas yang tepat, kurangnya perhatian, kesadaran, dan
motivasi karyawan.
Menurut konsep zero defects kesalahan- kesalahan yang
disebabkan oleh :
· Kurangnya
pengetahuan dapat diatasi dengan menggunakan teknik-teknik pelatihan modern.

pelayan prima harus diutamakan bila perusahaan ingin maju
BalasHapushttp://jasaserve5.jimdo.com